Bukan Sekedar Nasi Dan Lauk! Ini 5 Faktor Pemicu Keracunan MBG

2 menit membaca View : 184
Avatar photo
Dion Alfarizi
Nasional - 28 Sep 2025

Mediaraya.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang semestinya menjadi solusi gizi bagi masyarakat, kini justru disorot akibat rentetan kasus keracunan massal di berbagai daerah.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai faktor yang bisa memicu keracunan makanan.

“Secara umum World Health Organization (WHO) menyebutkan setidaknya ada lima hal yang dapat dideteksi di laboratorium untuk menilai keracunan makanan, dan baik kalau lima hal ini juga diperiksa di laboratorium kita sehubungan keracunan makanan yang dikaitkan dengan MBG ini,” ujar Prof Tjandra dalam keterangan tertulis, Sabtu, 27 September 2025.

Dari hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat, diketahui ada dua penyebab utama kontaminasi pada sampel MBG, yakni bakteri Salmonella dan Bacillus cereus.

Menurut Tjandra, Salmonella kerap ditemukan pada makanan berprotein tinggi seperti daging, unggas, dan telur, sementara Bacillus cereus sering muncul akibat penyimpanan nasi yang tidak tepat.

Selain itu, Prof Tjandra menekankan, WHO juga mengidentifikasi lima faktor besar penyebab keracunan makanan di seluruh dunia.

Mulai dari bakteri (Salmonella, E. coli, Listeria, hingga Vibrio cholerae), virus (Norovirus dan Hepatitis A), parasit (cacing pita dan trematoda), prion, hingga kontaminasi bahan kimia berbahaya seperti logam berat, polutan organik, dan toksin alami.

Data Labkes Jabar mengungkap, sejak Januari hingga September 2025 telah diterima 163 sampel makanan MBG dari 11 kabupaten/kota di Jawa Barat.

Dari hasil pemeriksaan mikrobiologi, 23% dinyatakan positif mengandung bakteri berbahaya, sementara dari uji kimia, 8% positif mengandung nitrit.

Kepala Labkes Jabar, Ryan Bayusantika Ristandi, menegaskan bahwa faktor kebersihan air, peralatan memasak, hingga higienitas pekerja dapur MBG menjadi penentu utama keamanan pangan.

“Ya, kebersihan air, peralatan, dan higienitas pekerja dapur (food handler) sangat berpengaruh terhadap terjadinya keracunan makanan, dan hal ini diatur jelas dalam regulasi,” kata Ryan.

Kasus keracunan MBG ini menjadi alarm penting agar pengawasan pangan lebih diperketat. Program pangan bergizi seharusnya menjamin kesehatan, bukan malah menjadi sumber masalah baru.***

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *