Batik Bulukumba Desa Topanda Tarik Perhatian Bank Indonesia

2 menit membaca View : 7
Avatar photo
Andi Fendy
Daerah - 17 Jan 2026

Mediaraya.id – Aktivitas produksi batik Bulukumba mulai mendapat perhatian lembaga nasional.

Rumah produksi sederhana di Desa Topanda, Kecamatan Rilau Ale, Bulukumba, dikunjungi pejabat Bank Indonesia Sulawesi Selatan.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung perkembangan UMKM batik yang baru dirintis.

Kelompok Membatik Bunga Mawar yang dipimpin Andi Mawar menjadi fokus kunjungan.

Sejak pagi, para anggota telah bersiap menyambut kedatangan rombongan Bank Indonesia.

Potensi batik lokal Bulukumba diperlihatkan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis desa.

Produksi batik Bulukumba yang dijalankan kelompok tersebut diketahui baru berlangsung sekitar satu bulan.

Aktivitas membatik mulai dilakukan sejak mendapat pendampingan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah Bulukumba yang dipimpin Andi Herfida Muchtar pada Desember 2025.

Produksi Batik Masih Tahap Awal

“Produksi batik ini baru sekitar sebulan berjalan,” tutur Andi Mawar sambil memperlihatkan kain batik hasil produksi, Kamis 15 Januari 2025.

Pelatihan membatik diberikan oleh pembatik asal Yogyakarta.

Pengenalan kain, lilin, canting, serta teknik pencetakan motif dilakukan secara bertahap.

Hasil produksi telah berupa sarung dan bahan kemeja dengan ciri khas Bulukumba.

Motif perahu Pinisi, nuansa adat Kajang, tarian tradisional, serta tagline We Love Bulukumba digunakan sebagai identitas lokal.

Seluruh bahan produksi masih didatangkan dari Yogyakarta. Proses pengerjaan dilakukan sepenuhnya oleh tangan perempuan Bulukumba.

“Untuk satu lembar kain ukuran dua kali satu meter, butuh waktu dua hari penuh menyelesaikan,” jelas Andi Mawar.

Peran Perempuan Dan Kelompok UMKM

Sebanyak 30 ibu-ibu produktif dari berbagai desa di Kecamatan Rilau Ale tergabung dalam Kelompok Membatik Bunga Mawar.

Produksi batik diarahkan sebagai sumber penghasilan berkelanjutan.

Target produksi massal mulai dirancang seiring peningkatan keterampilan anggota.

Rombongan Bank Indonesia Sulawesi Selatan dipimpin Kepala Grup BI Sulsel, Wahyu Purnama A.

Proses produksi batik disaksikan langsung mulai dari penyiapan kain, pemanasan lilin, pencetakan motif, hingga hasil akhir.

Dorongan Diversifikasi Produk

“Tentu lebih awal corak harus lebih beragam lagi. Seiring dengan jumlah produksi yang meningkat pemasarannya tidak hanya di Bulukumba, tapi juga sudah keluar kabupaten,” pinta Wahyu Purnama.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Bulukumba, Kepala Cabang Bank Sulselbar, perwakilan Dekranasda, serta TP-PKK Bulukumba.

Potensi UMKM desa dinilai layak untuk terus dikembangkan.

Kepala Disdagrin Bulukumba, Alfian Mallihungan, menyampaikan tujuan kunjungan Bank Indonesia untuk melihat peluang pengembangan UMKM lokal.

“Harapan kita, ke depan bisa terjalin kerja sama untuk mengembangkan batik Bulukumba agar semakin dikenal dan berdaya saing,” ujarnya.

Perhatian Bank Indonesia dinilai menjadi penguatan semangat bagi para pembatik.

Dari Desa Topanda, produksi batik Bulukumba mulai dirajut sebagai harapan baru ekonomi kreatif daerah.***

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *