BGN Hubungkan Petani Ke Dapur, Rantai Pasok MBG Disiapkan Lebih Pendek

3 menit membaca View : 94
Avatar photo
Andi Fendy
Nasional - 20 Jan 2026

Mediaraya.id – Badan Gizi Nasional (BGN) disiapkan sebagai penghubung langsung antara petani dan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menutup kesenjangan rantai pasok pangan.

Skema ini difokuskan pada wilayah produsen seperti Cianjur dan daerah konsumsi besar seperti Jakarta.

Langkah tersebut disampaikan Badan Gizi Nasional melalui kegiatan Food Hub yang digelar di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Kegiatan itu dihadiri perwakilan puluhan petani dan dijadikan forum pemetaan kebutuhan dapur MBG.

Kebutuhan bahan pangan dapur MBG di Jakarta disebut berada pada skala besar.

Produksi petani di Cianjur dilaporkan mengalami kelebihan pasokan dengan komoditas yang tidak selalu sesuai kebutuhan dapur MBG.

“Kebutuhan dapur di Jakarta cukup besar, sementara produksi dari sini sebetulnya oversupply, tapi dengan bahan yang berbeda,” kata Dian, Selasa (20/1/2026).

Produksi Petani Dinilai Belum Selaras

Produksi pangan petani selama ini disebut masih mengacu pada permintaan pasar umum.

Kebutuhan spesifik dapur MBG belum dijadikan acuan utama dalam penentuan komoditas yang ditanam.

Kondisi tersebut membuat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG kerap mengalami keterbatasan pasokan dan tingginya harga bahan pangan.

Kebutuhan jagung untuk dapur MBG di Jakarta disebut mencapai 240 ton per bulan.

Kapasitas produksi petani saat ini dilaporkan berada di kisaran 30 ton per bulan.

“Jadi ada gap sekitar 210 ton yang belum terpenuhi. Ini baru khusus kebutuhan Jakarta saja,” ujarnya.

Food Hub Digunakan Pemetaan Rantai Pasok

Kegiatan Food Hub dimanfaatkan untuk memetakan kesenjangan rantai pasok pangan.

Hasil pemetaan tersebut akan dijadikan dasar penyesuaian produksi petani dengan kebutuhan dapur MBG.

“Fungsi (Food Hub) kita hari ini adalah memetakan kesenjangan rantai pasoknya. Kalau petanya sudah kelihatan, kita akan sesuaikan apa yang bisa diproduksi oleh petani,” kata Dian.

BGN juga direncanakan menyusun kalender tanam secara rinci.

Pengaturan waktu tanam, pemupukan, hingga panen akan diarahkan pada pola panen harian.

“Mereka tidak harus panen besar, tapi panen setiap hari. Dengan begitu petani dapat pemasukan yang ajeg dan kepastian harga,” jelasnya.

Harga Petani Dan Pemangkasan Tengkulak

Kepastian harga dinilai menjadi aspek utama dalam perlindungan petani.

Praktik tengkulak disebut masih menekan harga di tingkat produsen.

Komoditas sayur pokcoy dijadikan contoh, dengan harga di petani yang kerap turun drastis saat kelebihan pasokan.

Harga pokcoy di tingkat petani disebut hanya berada di kisaran Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram.

Nilai tersebut bahkan dapat turun hingga Rp500 per kilogram.

Harga di Jakarta tercatat bisa mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Kehadiran Badan Gizi Nasional disebut akan memangkas rantai pasok hingga enam sampai tujuh lapisan.

Ongkos distribusi dinilai dapat ditekan dan harga produk dijaga tetap stabil.

Pasokan Ajeg untuk Program MBG

Skema pembelian langsung oleh dapur MBG dinilai memberikan keuntungan bagi kedua pihak.

Petani tetap memperoleh harga layak dan dapur MBG mendapatkan pasokan berkelanjutan.

“Petani dapat kepastian, dapur dapat supply yang ajeg dan sustainable. Jadi dapur tidak akan kesulitan di pasar,” kata Dian.

Kemitraan langsung ini diharapkan memperkuat ketahanan rantai pasok program Makan Bergizi Gratis serta mendorong peningkatan kesejahteraan petani lokal.***

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *