DPRD Ingatkan Bulog, Pembayaran Digital Gabah Berisiko Jika Petani Tak Didampingi

2 menit membaca View : 295
Avatar photo
Andi Fendy
Daerah - 07 Jan 2026

Mediaraya.id – Dr. Supriadi menyoroti rencana pembayaran digital gabah petani yang bakal diterapkan Perum Bulog pada 2026.

Anggota DPRD Bulukumba tersebut menilai kebijakan pembelian gabah secara digital perlu dibarengi pemahaman menyeluruh terhadap kondisi riil petani di lapangan.

Pembayaran digital gabah petani dinilai sebagai kebijakan positif namun belum sepenuhnya siap diterapkan tanpa pendampingan.

Ketua DPD PKS Bulukumba tersebut menyebutkan bahwa tidak semua petani memiliki akses dan pemahaman terhadap sistem pembayaran nontunai.

Dr. Supriadi menilai bahwa kebijakan pembayaran nontunai berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila tidak didahului kajian lapangan yang matang.

Kondisi kualitas gabah serta fasilitas pascapanen masyarakat disebutkan masih beragam.

“Kebijakan nasional perlu diterjemahkan secara kontekstual di daerah agar tidak menimbulkan hambatan pada proses penyerapan gabah petani”, ujar Supriadi, Rabu, 7 Januari 2026.

Pembayaran non tunai disebutkan bagus dari sisi transparansi dan keamanan.

“Bagus, tapi membutuhkan pendampingan intensif kepada masyarakat petani”, terangnya.

Ketua DPD PKS Bulukumba tersebut menegaskan bahwa sosialisasi menjadi kunci keberhasilan kebijakan.

Banyak petani dinilai belum terbiasa menggunakan layanan perbankan maupun sistem digital.

Kehadiran pemerintah dianggap penting dalam proses transisi pembayaran gabah.

Pendampingan teknis serta edukasi kepada petani disebutkan harus dilakukan secara berkelanjutan.

Dr. Supriadi juga menilai bahwa tanpa keterlibatan aktif pemerintah, kebijakan pembayaran digital dikhawatirkan tidak berjalan maksimal di daerah dengan keterbatasan akses.

Sebelumnya, Rencana pembayaran digital disampaikan oleh Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Universitas Indonesia, Depok, Senin (5/1/2026).

“Kami juga sedang membuat konsep, yaitu pembayaran khusus untuk para petani yang selama ini dibayar dengan cash di lapangan. Kami akan bayar dengan proses dengan digitalisasi,” ujar Rizal.***

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *