Pelatihan Membatik Pertama Di Bulukumba Resmi Dimulai, Targetkan Bulukumba Jadi Sentra Batik Sulsel

3 menit membaca View : 181
Avatar photo
Andi Fendy
Daerah - 08 Des 2025

Mediaraya.id – Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) resmi menggelar Pelatihan Membatik untuk Pelaku Industri Batik Bulukumba Tahun 2025.

Kegiatan perdana ini berlangsung intensif selama 12 hari, mulai 8–20 Desember 2025, di Gedung PKK Kabupaten Bulukumba.

Program ini bertujuan meningkatkan kualitas produk sekaligus mendorong posisi Bulukumba sebagai sentra batik baru di luar Pulau Jawa.

Pelatihan ini diikuti 30 pelaku industri batik, mayoritas merupakan perajin dari UMKM Batik Mawar di Kecamatan Bontomanai, yang dikenal sebagai sentra awal batik di Bulukumba.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Bulukumba, Andi Herfida Muchtar, pada Senin, 8 Desember 2025.

Hadir pula Asisten Perekonomian dan Pembangunan Muhammad Daud Kahal yang mewakili Bupati Bulukumba, Kepala Disdagperin dan Ketua Harian Dekranasda Alfian, tiga instruktur ahli dari BBSPJIKB Yogyakarta, serta seluruh peserta pelatihan.

Dalam sambutannya, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Daud Kahal, memberikan apresiasi terhadap komitmen pemerintah dalam meningkatkan kapasitas UMKM batik di Bulukumba.

Ia menegaskan pentingnya posisi batik sebagai produk unggulan daerah, apalagi Bulukumba merupakan destinasi wisata besar di Sulawesi Selatan.

“Kabupaten Bulukumba adalah daerah tujuan wisata di Sulawesi Selatan. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata terdapat 500 sampai 700 ribu kunjungan wisatawan per tahun. Perputaran ekonomi dalam dunia pariwisata ini perlu didukung dengan hadirnya cinderamata khas seperti batik bagi wisatawan,” ujar Daud Kahal.

Sementara itu, Ketua Dekranasda, Andi Herfida Muchtar, memaparkan visi besar di balik pelatihan intensif tersebut.

Menurutnya, hadirnya pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk membangun identitas dan kebanggaan daerah melalui batik.

“Kita melihat peluang besar dengan menghadirkan identitas Bulukumba melalui batik sebagai produk budaya, produk ekonomi, dan produk kebanggaan daerah. Ketika kita membuat batik Bulukumba, maka kita sedang menuliskan kisah tentang lautnya, budayanya, pinisinya, dan kearifan lokalnya,” tegas Herfida Muchtar.

Beliau menambahkan bahwa pengembangan batik bukan sekadar karya visual, tetapi juga strategi penguatan ekonomi masyarakat.

“Kita ingin UMKM tumbuh tidak hanya sebagai usaha sampingan, tetapi sebagai sumber pendapatan yang kuat. Dekranasda siap menjadi jembatan komunikasi antara pelaku UMKM, pemerintah daerah, dan mitra lainnya agar produk batik memiliki kualitas, standar, dan pasar yang lebih luas,” tambahnya.

Ketua Dekranasda juga berharap pelatihan yang menghadirkan instruktur dari Yogyakarta ini mampu melahirkan pembatik-pembatik handal dan menempatkan Bulukumba sebagai “Jogja Kedua” dalam industri batik nasional.

Ia menekankan pentingnya efektivitas penggunaan anggaran serta perlunya rapor harian untuk mengukur progres peserta.

Pelatihan ini menggandeng tiga narasumber ahli dari BBSPJIKB Yogyakarta: Masiswo, Djoko Aryudar Romadhona, dan Tika Sulistyaningsih, yang memberikan materi dan praktik teknis secara intensif.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, Dekranasda, dan instruktur profesional, Pelatihan Membatik Bulukumba 2025 menjadi investasi jangka panjang untuk memperkuat kualitas produk, memperluas jangkauan pasar, serta menjadikan batik Bulukumba sebagai representasi visual budaya lokal yang mampu bersaing secara nasional.***

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *