Refeksi Hari Tani Nasional! Bulog Hitung Angka, Petani Hitung Nasib, Saatnya Negara Berpihak

3 menit membaca View : 168
Avatar photo
Dion Alfarizi
Opini - 24 Sep 2025

Mediaraya.id – Di kampung-kampung kami, sebagian besar sawah digarap oleh petani-petani kecil yang tidak memiliki lahan sendiri.

Mereka bekerja dari mencangkul, menanam, sampai panen, yang hasil panennya harus dibagi dua dengan pemilik setelah dipotong biaya benih, pupuk, ongkos bajak, ongkos panen hingga ojek sawah
Dalam kondisi normal saja, bagian penggarap itu tipis.

Dari empat bulan kerja di satu hektar sawah, penghasilan bersihnya sering kali hanya cukup untuk sekadar bertahan hidup.

Ketika Bulog berhenti membeli gabah, harga di tingkat petani langsung jatuh di bawah HPP. Pemilik lahan mungkin masih punya cadangan atau aset lain, tapi petani penggarap langsung terhantam.

Dari harga gabah Rp6.500 yang kemudian turun menjadi Rp5.800–6.300, membuat penghasilan mereka yang sudah kecil semakin tergerus. Kadang hasil bersih yang dibawa pulang setelah panen tidak lebih dari upah harian buruh bangunan.

Nilai Tukar Petani yang selalu digadang-gadang membaik lebih dari 100 diatas kertas, namun kenyataan dilapangan NTP petani senantiasa dibawah 100 yang mengindikasikan kesejahteraan petani masih jauh dari kelayakan dan masih menjadi PR besar bagi pemerintahan Bapak Presiden Parabowo Subianto.

Bagi petani penggarap, panen selalu membawa dua wajah: satu sisi ada harapan, sisi lain penuh dengan kecemasan.

Harapan bahwa keringat berbulan-bulan akan terbayar, tapi dilain sisi juga ada kecemasan apakah harga hasil panen mereka akan cukup untuk membawa pulang beras ke dapur sendiri.

Ketika Bulog hanya berbicara soal angka dan target serapan, suara hati penggarap seolah hilang ditelan laporan. Mereka tidak pernah menghitung hidup dalam tonase atau persentase, tapi dalam beras yang bisa dimasak, dalam uang sekolah untuk anak-anak mereka, dalam sekantung obat untuk orang tua.

Setiap penurunan harga seratus rupiah di pasar berarti akan ada piring kosong di rumah-rumah mereka. Masa depan menjadi kabur: apakah musim depan masih bisa menggarap sawah, atau harus berhenti dan mencari kerja lain di kota.

Inilah wajah paling rapuh dari sistem pangan kita: para petani penggarap yang menjadi tulang punggung produksi justru paling rentan untuk tumbang ketika pasar tidak berpihak.

Bila mereka menyerah, sawah bisa ditinggalkan, produksi turun, dan ketahanan pangan ikut runtuh. Karena itu, keberadaan Bulog di lapangan bukan sekadar soal stok atau cadangan pemerintah, tapi soal menjaga agar bapak-bapak petani yang hidup dari sepetak sawah dengan keringat dan tenaga mereka tidak kehilangan harapan setiap kali panen tiba.

Di Hari Tani Nasional ini, sudah saatnya kita tidak hanya merayakan sejarah, tapi memastikan bahwa petani terutama petani penggarap memiliki masa depan yang lebih pasti dari sekadar angka-angka di atas kertas laporan.

Penulis: Erwin Abdullah
Koordinator Daerah Gempita (Gerakan Pemuda Tani) Kabupaten Bulukumba

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *