Suasana Khusyuk Di Polres Bulukumba, Binrohtal Bentuk Polisi Humanis

3 menit membaca View : 1
Avatar photo
Andi Fendy
Daerah - 30 Apr 2026

Mediaraya.id – Usai apel pagi, suasana di lingkungan Polres Bulukumba, Kamis (30/4/2026), berubah menjadi lebih khidmat.

Di Masjid Namirah, lantunan Surah Yasin terdengar syahdu.

Sementara di ruang vidcom, pembacaan Alkitab berlangsung penuh ketenangan.

Melalui kegiatan pembinaan rohani dan mental (Binrohtal), seluruh personel Polres Bulukumba bersama siswa Latja SPN Batua Makassar diajak memperkuat iman, disiplin, dan integritas dalam menjalankan tugas sebagai pelindung masyarakat.

Binrohtal Polres Bulukumba Jadi Agenda Rutin Pembinaan Mental

Pembinaan rohani dan mental atau Binrohtal kembali menjadi bagian penting dalam rutinitas Polres Bulukumba.

Program ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga bentuk nyata pembinaan karakter bagi seluruh personel kepolisian.

Kegiatan tersebut dilaksanakan setelah apel pagi dan diikuti oleh seluruh anggota Polres Bulukumba serta siswa Latja SPN Batua Makassar yang tengah menjalani latihan kerja di wilayah hukum Polres Bulukumba.

Pelaksanaannya dibagi berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing personel.

Untuk yang beragama Islam, kegiatan berlangsung di Masjid Namirah Polres Bulukumba.

Sedangkan personel dan siswa Latja yang beragama Kristen mengikuti ibadah rohani di ruang vidcom Polres Bulukumba.

Langkah ini menunjukkan bahwa pembinaan spiritual menjadi perhatian serius dalam membentuk polisi yang tidak hanya profesional secara tugas, tetapi juga kuat secara moral.

Suasana Khusyuk Warnai Masjid Namirah Dan Ruang Vidcom

Di Masjid Namirah, kegiatan Binrohtal diisi dengan pembacaan Surah Yasin dan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Bripda Muhammad Alif dari Bagian SDM Polres Bulukumba.

Suasana penuh kekhusyukan terlihat sejak awal kegiatan dimulai.

Para personel duduk berbaris rapi, mengikuti setiap lantunan ayat dengan penuh penghayatan.

Momen ini menjadi ruang refleksi di tengah padatnya tanggung jawab sebagai aparat penegak hukum.

Bagi peserta yang beragama Kristen, pembinaan rohani di ruang vidcom diisi dengan pembacaan Alkitab yang dipimpin oleh salah satu siswa Latja SPN Batua Makassar.

Meski berlangsung di tempat berbeda, semangat yang dibangun tetap sama: memperkuat hati, menenangkan pikiran, dan meneguhkan komitmen pelayanan kepada masyarakat.

Kompol Syamsul Bahri: Spiritual Kuat, Tugas Lebih Humanis

Advertisement

Kabag SDM Polres Bulukumba, Kompol Syamsul Bahri, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa kegiatan Binrohtal merupakan agenda rutin yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter personel.

Menurutnya, tugas kepolisian tidak hanya membutuhkan kecakapan teknis, tetapi juga fondasi spiritual yang kokoh agar setiap keputusan tetap berlandaskan nilai moral dan etika.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh personel dan siswa Latja dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta memiliki sikap disiplin, tanggung jawab, dan integritas dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembinaan rohani dan mental menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan tugas kepolisian agar tetap humanis, profesional, dan berlandaskan nilai-nilai moral serta etika.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa polisi yang baik bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga bagaimana menghadirkan rasa aman dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

Membentuk Polisi Yang Dekat dengan Masyarakat

Di tengah tantangan tugas kepolisian yang semakin kompleks, pendekatan spiritual dinilai menjadi pondasi penting dalam menjaga keseimbangan emosional personel.

Tekanan pekerjaan, dinamika sosial, hingga tuntutan pelayanan publik membutuhkan ketahanan mental yang tidak bisa dibangun hanya melalui pelatihan fisik dan teknis.

Karena itu, Binrohtal Polres Bulukumba menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakan aparat yang lebih sabar, bijak, dan dekat dengan masyarakat.

Bukan hanya untuk kepentingan internal institusi, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas pelayanan publik yang dirasakan masyarakat sehari-hari.

Dengan kegiatan ini, seluruh peserta diharapkan mampu mengambil hikmah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan kerja maupun saat hadir di tengah masyarakat.

Pembinaan spiritual seperti ini menjadi pengingat bahwa di balik seragam dan tugas negara, ada nilai kemanusiaan yang harus selalu dijaga.***

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *