IQRO PKS edisi kedua bertema “Perang di Timur Tengah: Dampak dan Solusi Hadapi Krisis Energi” di Aula Kantor DPTP PKS, Jakarta, Kamis (30/4/2026)Mediaraya.id – Di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang terus mengguncang stabilitas global, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali menggelar forum intelektual IQRO PKS sebagai ruang membaca arah peradaban sekaligus merumuskan respons strategis bangsa.
Bertempat di Aula Kantor DPTP PKS, Jakarta, Kamis (30/4/2026), edisi kedua IQRO PKS mengangkat tema “Perang di Timur Tengah: Dampak dan Solusi Hadapi Krisis Energi”.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah tokoh penting di sektor energi nasional, mulai dari Menteri ESDM periode 2014–2016 Sudirman Said, Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM Hendra Iswahyudi, Ketua DPP PKS Bidang Energi, Lingkungan Hidup, dan Perubahan Iklim Agus Ismail, hingga perwakilan dari Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi.
Forum ini menjadi refleksi serius atas ancaman nyata krisis energi yang dapat berdampak langsung pada ekonomi nasional dan kehidupan masyarakat.
IQRO PKS Jadi Ruang Membaca Perubahan Dunia
Sekretaris Jenderal PKS Muhammad Kholid dalam pengantar diskusi menegaskan bahwa tema kali ini memiliki makna khusus karena menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-24 PKS yang mengusung tema “Berdaya Bersama Rakyat Membangun Ketahanan Indonesia.”
Menurut Kholid, konflik di Timur Tengah bukan sekadar persoalan regional, melainkan dapat memicu gelombang besar pada stabilitas energi dunia, termasuk Indonesia yang masih memiliki ketergantungan terhadap dinamika pasar energi global.
“IQRO PKS hadir sebagai ruang untuk membaca, memahami, dan merespons dinamika peradaban, baik di level nasional maupun global,” ujar Muhammad Kholid.
Ia menilai, ketahanan energi tidak bisa lagi dipandang sebagai isu teknis semata, melainkan bagian penting dari ketahanan nasional yang menyentuh kehidupan rakyat sehari-hari.
Ancaman Krisis Energi Harus Diantisipasi Sejak Dini
Perang di kawasan Timur Tengah selama ini dikenal memiliki pengaruh besar terhadap rantai pasok energi dunia, khususnya minyak dan gas.
Ketika eskalasi konflik meningkat, harga energi global biasanya ikut melonjak, memicu tekanan ekonomi di berbagai negara.
Indonesia, sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi tertentu, dinilai harus memiliki strategi antisipatif agar tidak terjebak dalam gejolak harga internasional.
Mantan Menteri ESDM Sudirman Said menekankan pentingnya kesiapan nasional dalam menghadapi ketidakpastian global.
Menurutnya, kebijakan energi tidak boleh bersifat reaktif, tetapi harus dibangun dengan visi jangka panjang.
Ketahanan energi, kata dia, harus diperkuat melalui diversifikasi sumber energi, efisiensi konsumsi, serta percepatan pengembangan energi baru terbarukan.
Situasi global saat ini menjadi pengingat bahwa energi adalah soal kedaulatan.
Energi Baru Terbarukan Jadi Jalan Strategis
Dalam forum tersebut, Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM Hendra Iswahyudi juga menyoroti pentingnya konservasi energi sebagai langkah cepat menghadapi potensi krisis.
Selain menjaga pasokan, efisiensi energi dinilai menjadi solusi nyata yang bisa segera dilakukan oleh pemerintah, industri, hingga masyarakat.
Ketua DPP PKS Bidang Energi, Lingkungan Hidup, dan Perubahan Iklim Agus Ismail menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar dalam energi baru terbarukan yang harus dimaksimalkan.
Menurutnya, ketergantungan pada energi fosil perlu dikurangi secara bertahap agar Indonesia memiliki ketahanan energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Langkah ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut masa depan generasi mendatang.
PKS Dorong Ketahanan Indonesia Dari Sektor Energi
Diskusi IQRO PKS kali ini memperlihatkan bahwa isu energi telah menjadi perhatian strategis lintas sektor.
Bukan hanya pemerintah, tetapi juga partai politik, akademisi, dan masyarakat sipil perlu terlibat aktif dalam membangun solusi.
PKS melalui forum ini ingin menunjukkan bahwa politik tidak hanya berbicara soal kekuasaan, tetapi juga keberpihakan pada isu-isu fundamental rakyat, termasuk energi.
Di tengah ketidakpastian global, ketahanan Indonesia harus dibangun dari sekarang dari ruang diskusi, dari kebijakan yang tepat, dan dari keberanian mengambil keputusan jangka panjang.
Perang mungkin terjadi jauh di Timur Tengah, tetapi dampaknya bisa terasa hingga dapur rumah tangga di Indonesia.
Dan karena itu, kesiapsiagaan menjadi keharusan, bukan pilihan.***
Tidak ada komentar