Video perundungan terhadap seorang siswa SD di Kecamatan Herlang, Bulukumba, viral di media sosial dan memicu keprihatinan publik serta perhatian dari anggota DPRD Bulukumba terkait pentingnya pengawasan orang tua dan guru.Mediaraya.id – Publik Bulukumba dihebohkan dengan beredarnya video perundungan terhadap seorang anak laki-laki yang diduga terjadi di salah satu gedung sekolah dasar di Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba.
Video berdurasi 1 menit 40 detik itu menyebar luas di berbagai media sosial dan memicu beragam reaksi.
Dalam rekaman tersebut, tampak seorang anak mengenakan piyama hitam duduk sendirian di area gedung sekolah, sementara sekelompok anak laki-laki lain mendekatinya.
Suasana yang awalnya terlihat biasa berubah menjadi mencekam ketika salah satu anak berbaju biru mendekat secara agresif dan tiba-tiba melayangkan pukulan ke arah korban yang masih dalam posisi duduk. Setelah dipukul, korban terlihat tertekan dan terdengar menangis.
Ironisnya, anak-anak lain yang berada di lokasi tidak berusaha melerai. Sebaliknya, beberapa di antaranya justru menonton, tertawa, bahkan merekam kejadian tersebut menggunakan telepon genggam.
Peristiwa itu diduga terjadi di luar jam sekolah, namun tetap berada di lingkungan gedung sekolah dasar di Kecamatan Herlang.
Video Viral Picu Keprihatinan Publik
Dugaan perundungan anak di Herlang ini langsung menjadi perhatian masyarakat Bulukumba.
Banyak warga menyayangkan tindakan kekerasan yang melibatkan anak-anak usia yang masih tergolong belia tersebut.
Tidak sedikit yang menilai bahwa kejadian tersebut menjadi gambaran serius tentang menurunnya kontrol sosial serta lemahnya pengawasan terhadap anak di lingkungan sekitar.
Perundungan atau bullying pada anak bukan hanya persoalan sesaat, tetapi dapat meninggalkan luka panjang bagi korban.
Trauma psikologis, rasa takut, hingga hilangnya kepercayaan diri menjadi dampak yang sering kali tidak terlihat secara langsung.
Fenomena ini juga membuka pertanyaan besar tentang bagaimana pendidikan karakter diterapkan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak.
Peristiwa tersebut turut mendapat perhatian dari anggota DPRD Bulukumba, Rizal Sarib.
Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas video yang beredar dan menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak bisa dianggap sebagai kenakalan biasa.
“Saya sangat prihatin dan kecewa. Perbuatan seperti ini tidak dapat dianggap sekadar kenakalan remaja, melainkan merupakan pelanggaran hak dan tindakan yang dapat merusak masa depan anak-anak. Kekerasan antar teman bukanlah hal yang biasa, karena dapat menyebabkan luka fisik permanen, trauma psikis, bahkan memengaruhi perkembangan mental anak dalam jangka panjang,” ujarnya, Minggu 26 April 2026.
Menurut Rizal, peristiwa ini harus menjadi alarm serius bagi semua pihak, terutama orang tua dan guru yang memiliki peran utama dalam pembentukan karakter anak.
“Ini menjadi peringatan keras bagi kita semua, khususnya para orang tua dan guru. Anak-anak membutuhkan perhatian, pengawasan, serta pembinaan moral yang kuat sejak dini. Jika hal seperti ini dibiarkan, maka dampaknya akan semakin besar, tidak hanya bagi korban, tetapi juga bagi pelaku yang masa depannya dapat ikut terancam,” lanjut Politisi PKS tersebut.
Pembentukan Karakter Jadi PR Bersama
Anggota legislatif dari daerah pemilihan Herlang-Kajang tersebut juga menekankan bahwa pemerintah telah berupaya memenuhi kebutuhan dasar anak, termasuk dalam aspek gizi dan pendidikan.
Namun, pembentukan akhlak dan nilai kemanusiaan tetap menjadi tanggung jawab utama keluarga dan pendidik.
“Pemerintah telah berupaya menjamin pemenuhan gizi dan kebutuhan dasar anak, namun pembentukan karakter, akhlak, dan nilai kemanusiaan tetap menjadi tanggung jawab utama orang tua dan guru. Persoalan moral seperti ini sangat berbahaya dan menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua agar anak-anak tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki empati, rasa hormat, dan sikap saling menghargai,” tegasnya.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kekerasan pada anak, sekecil apa pun, tidak boleh dianggap normal.
Tindakan saling menghina, memukul, hingga membiarkan teman menjadi korban adalah bentuk kegagalan sosial yang harus segera diperbaiki.
Jika tidak ditangani secara serius, budaya kekerasan dapat tumbuh menjadi kebiasaan yang mengakar dan merusak generasi muda di masa depan.***
Tidak ada komentar