Dolar AS Tembus Rp17.520, Rupiah Cetak Rekor Terlemah

3 menit membaca View : 17
Avatar photo
Andi Fendy
Nasional - 12 Mei 2026

Mediaraya.id – Ketika pasar keuangan baru berjalan sekitar satu jam pada Selasa pagi, rupiah kembali terpukul.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melonjak menembus level Rp17.500 dan mencatat posisi tertinggi sepanjang sejarah di tengah tekanan pasar global yang belum mereda.

Data Bloomberg pada Selasa (12/5/2026) pukul 10.10 WIB menunjukkan dolar AS berada di level Rp17.520 atau menguat 106 poin setara 0,61 persen terhadap rupiah.

Padahal saat pembukaan perdagangan pukul 09.06 WIB, mata uang Negeri Paman Sam itu masih berada di posisi Rp17.487.

Artinya, hanya dalam waktu sekitar satu jam, kurs dolar AS naik sekitar Rp33.

Lonjakan cepat ini memicu kekhawatiran baru di pasar domestik, terutama terhadap stabilitas harga barang impor, beban utang luar negeri, hingga daya beli masyarakat.

Rupiah Tertekan, Pasar Bergerak Cepat

Pergerakan rupiah yang terus melemah menjadi perhatian serius pelaku pasar.

Penguatan dolar AS terjadi hampir merata terhadap sejumlah mata uang utama dunia, menandakan arus dana global kembali mengarah ke aset berbasis dolar.

Terhadap dolar Australia, mata uang AS menguat 0,22 persen.

Sementara terhadap euro, dolar AS naik 0,07 persen.

Kondisi serupa juga terlihat pada dolar Singapura yang melemah 0,17 persen terhadap greenback.

Di kawasan Asia, tekanan terhadap mata uang regional juga cukup terasa.

Dolar AS tercatat menguat 0,24 persen terhadap yen Jepang, naik 0,29 persen terhadap baht Thailand, dan bertambah 0,21 persen terhadap ringgit Malaysia.

Hanya yuan China yang sedikit lebih kuat dengan dolar AS tercatat minus tipis 0,02 persen.

Situasi ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi sentimen global yang mendorong investor memburu dolar AS sebagai aset aman.

Dolar AS Menguat, Dampaknya Mulai Terasa

Penguatan dolar AS hingga menyentuh Rp17.520 menjadi pukulan berat bagi sejumlah sektor.

Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi dalam waktu dekat.

Di sisi lain, masyarakat mulai merasakan kecemasan terhadap potensi kenaikan harga barang elektronik, pangan impor, hingga biaya perjalanan luar negeri.

Kondisi tersebut juga bisa memicu tekanan inflasi jika pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.

Sejumlah pengamat menilai lonjakan dolar AS dipicu kombinasi faktor eksternal, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, hingga meningkatnya permintaan dolar di pasar internasional.

Di ruang perdagangan, suasana pasar terlihat lebih hati-hati.

Investor cenderung menunggu respons pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Tekanan Global Bayangi Ekonomi Domestik

Melemahnya rupiah kali ini terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketika dolar AS menguat secara agresif, mata uang negara berkembang biasanya menjadi pihak paling rentan terkena tekanan.

Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar persoalan angka di layar perdagangan valuta asing.

Pelemahan rupiah dapat berdampak langsung terhadap biaya impor energi, pembayaran utang luar negeri, hingga kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

Meski demikian, beberapa ekonom menilai Indonesia masih memiliki modal fundamental ekonomi yang relatif terjaga.

Cadangan devisa dan intervensi Bank Indonesia diperkirakan akan menjadi instrumen penting untuk menahan gejolak lebih dalam.

Namun jika tekanan dolar AS terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan, pasar diperkirakan akan semakin sensitif terhadap setiap kebijakan ekonomi dan moneter yang dikeluarkan pemerintah maupun bank sentral.***

Advertisement
Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS