(Ilustrasi) Forum Penggiling Padi Lokal Bulukumba (FPPLB) memperingatkan potensi krisis beras akibat gabah petani banyak diserap pembeli dari luar daerah, yang berdampak pada penggilingan lokal dan stabilitas harga beras di pasar.Mediaraya.id – Forum Penggiling Padi Lokal Bulukumba (FPPLB) mengeluarkan peringatan serius mengenai kondisi ketahanan pangan daerah.
Selain dampak fenomena “Godzilla El Nino” yang menurunkan rendemen padi, maraknya pergerakan pembeli gabah dari luar kota yang berani menawar di atas harga rata-rata kini mengancam ketersediaan stok bahan baku bagi penggilingan lokal di Bulukumba.
Menurut FPPLB, kondisi ini jika dibiarkan akan memicu dampak efek domino.
Seperti penggiling lokal akan berhenti beroperasi karena kehabisan bahan baku.
Kemudian berujung pada kelangkaan beras dan lonjakan harga di pasar-pasar lokal Bulukumba.
“Kami melihat ada pergerakan masif pembeli dari luar daerah yang menyerap gabah petani kita dengan harga tinggi. Di satu sisi ini menguntungkan petani sesaat, namun di sisi lain, ini ancaman bagi kedaulatan pangan kita sendiri. Gabah kita ‘lari’ keluar, tapi nanti kita yang kesulitan cari beras murah di daerah sendiri,” tegas Koordinator FPPLB, Abbana
FPPLB mengapresiasi langkah Bupati Bulukumba yang telah merespons cepat pernyataan sikap forum dan meneruskannya ke dinas terkait.
Namun, untuk memastikan adanya payung kebijakan yang konkret, FPPLB mendesak DPRD Kabupaten Bulukumba untuk segera memfasilitasi Rapat Dengar Pendapat (RDP).
Menghadirkan Satgas Pangan, Bulog, Dinas Pertanian, dan Dinas Perdagangan.
“DPRD perlu segera memanggil pihak-pihak terkait. Kita butuh pengawasan ketat di lapangan agar aliran gabah keluar daerah tidak sampai menguras habis cadangan pangan lokal. Jangan sampai saat puncak kemarau nanti, lumbung kita kosong karena semua sudah diangkut keluar,” tambahnya.
FPPLB menekankan bahwa koordinasi lintas sektoral akan memastikan berapa banyak gabah yang tersisa di tingkat petani dan penggilingan lokal.
“Juga memastikan persaingan harga tetap sehat dan tidak merugikan stabilitas ekonomi daerah,” jelas Abbana.
Kordinasi itu juga katanya akan memastikan Bulog dapat bersaing secara adaptif dalam menyerap gabah lokal untuk cadangan pemerintah daerah.
“Kami ingin ada solusi di mana petani tetap sejahtera dengan harga yang layak, namun penggilingan lokal tetap bisa berputar dan rakyat Bulukumba tidak perlu membeli beras dengan harga selangit akibat stok lokal yang habis dibawa keluar,” tutup Abbana.
Salah seorang seorang pengusaha penggilingan padi Bulukumba Hj Nir turut angkat bicara.
Situasi tersebut menurutnya berdampak langsung pada menurunnya aktivitas penggilingan dan kerbatasan bahan baku gabah di tingkat lokal.
“Kalau dampak lain bisa kenaikan harga beras di pasaran dan potensi inflasi yang dapat membebani masyarakat,” ungkapnya. ***
Tidak ada komentar