Komisi II DPRD Bulukumba meninjau langsung sistem kelistrikan RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja usai insiden pemadaman listrik, sementara pihak rumah sakit menyampaikan permintaan maaf atas terganggunya pelayanan pasien.Mediaraya.id – Pemadaman listrik yang sempat melumpuhkan sebagian layanan di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba akhirnya mendapat perhatian serius.
Selasa (28/4), Komisi II DPRD Kabupaten Bulukumba turun langsung meninjau sistem kelistrikan rumah sakit untuk memastikan insiden serupa tidak kembali mengganggu pelayanan pasien.
Kunjungan lapangan itu dipimpin Ketua Komisi II DPRD Bulukumba, H. Muhdar, sebagai tindak lanjut dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) sehari sebelumnya di DPRD Bulukumba.
Fokus utama DPRD adalah mencari akar persoalan padamnya listrik yang sempat terjadi pada Kamis, 23 April 2026, dan menilai kesiapan sistem cadangan listrik di fasilitas vital rumah sakit.
Bagi rumah sakit, listrik bukan sekadar penerangan.
Ia adalah denyut utama layanan medis mulai ruang operasi, ICU, hingga alat-alat penunjang perawatan pasien.
Komisi II DPRD Bulukumba Tinjau Sistem Kelistrikan RSUD
Dalam peninjauan itu, sejumlah anggota Komisi II turut hadir, di antaranya Wakil Ketua Komisi II Kaspul BJ, Dr. Supriadi, Anhar Sakti, dan H. Musa Lirpa.
Hadir pula anggota Komisi I DPRD Bulukumba, Juandy Tandean.
Turut mendampingi, Sekretaris Daerah Bulukumba Muh. Ali Saleng, Direktur RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba dr. Rizal Ridwan Dappi, pihak PLN, serta jajaran teknis rumah sakit.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Bulukumba, Kaspul BJ, menegaskan bahwa secara keseluruhan sistem kelistrikan rumah sakit memang membutuhkan pembenahan, terutama pada objek-objek vital yang tidak boleh kehilangan suplai daya.
“Kita melakukan kroscek di rumah sakit dalam rangka memastikan bahwa proses kelistrikan di rumah sakit terjadi pemadaman karena memang ada trouble di luar kemampuan manajemen rumah sakit,” ungkapnya.
Menurut Kaspul, ruang operasi menjadi salah satu titik paling krusial yang wajib memiliki suplai listrik cadangan mandiri.
Ruang Operasi Harus Punya UPS Dan Jalur Listrik Ganda
Ia mencontohkan ruang operasi yang harus dilengkapi dengan UPS (Uninterruptible Power Supply) agar pelayanan medis tetap berjalan tanpa gangguan meski listrik utama padam.
“Seperti ruang operasi, itu perlu cadangan seperti UPS,” kata Kaspul saat sidak.
Selain itu, DPRD juga memastikan genset rumah sakit berfungsi optimal dan siap digunakan kapan pun saat terjadi gangguan listrik dari jaringan utama.
“Jadi hari ini kita memastikan bahwa seluruh alat misalnya genset berfungsi dengan baik apabila terjadi pemadaman yang dilakukan oleh rumah sakit,” tambahnya.
Tak hanya soal genset, DPRD juga menyoroti pentingnya desain jaringan listrik ganda.
Sistem ini dinilai penting agar ketika ada perbaikan atau gangguan pada satu jalur, suplai listrik tetap berjalan melalui jalur lainnya.
Menurut Kaspul, sistem kelistrikan rumah sakit tidak boleh bergantung pada satu jalur tunggal karena menyangkut keselamatan nyawa manusia.
DPRD Usul Pengelolaan Listrik Dipihak Ketigakan
Dalam sidak tersebut, Komisi II DPRD Bulukumba bahkan mengusulkan agar pengelolaan kelistrikan rumah sakit dipihakketigakan kepada tenaga profesional khusus.
Langkah ini dinilai penting agar pengawasan, perawatan, hingga mitigasi risiko dapat dilakukan lebih cepat dan lebih terukur.
“Kemudian kita minta yang mengelola listrik rumah sakit untuk dipihak ketigakan saja, karena ini objek vital yang menyangkut nyawa manusia,” tegas Kaspul.
Usulan ini muncul sebagai bentuk antisipasi agar insiden pemadaman tidak kembali mengganggu pelayanan kesehatan, khususnya pada layanan darurat dan tindakan operasi.
Direktur RSUD Minta Maaf Atas Gangguan Pelayanan
Direktur RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba, dr. Rizal Ridwan Dappi, menyampaikan apresiasi atas perhatian DPRD Bulukumba terhadap kondisi rumah sakit.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan pelayanan saat insiden pemadaman listrik beberapa hari lalu.
“Kami atas nama direksi dan jajaran menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pelayanan yang kurang nyaman pada saat pemadaman kemarin,” jelas dr. Rizal.
Ia menegaskan pihak rumah sakit akan terus melakukan pembenahan agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin maksimal.
Diketahui, pemadaman listrik terjadi pada Kamis, 23 April 2026, sekitar pukul 17.35 hingga 19.45 WITA.
Awalnya, pemadaman dilakukan untuk mendukung penyambungan instalasi jaringan listrik bagi pengoperasian peralatan operasi jantung di Gedung Perawatan Jantung Terpadu.
Namun, di luar kendali manajemen rumah sakit, motorized panel pembagi setelah penyambungan mendadak mengalami kerusakan atau trouble.
Akibatnya, pemadaman yang semula diperkirakan hanya berlangsung 15–20 menit justru molor hingga hampir dua jam.
Peristiwa itu menjadi alarm penting bahwa rumah sakit modern membutuhkan sistem kelistrikan berlapis, bukan sekadar genset cadangan.
Ke depan, pembenahan ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga rasa aman pasien yang mempercayakan hidupnya di ruang perawatan.***
Tidak ada komentar