Rumah Buruh Dicicil 40 Tahun, Ini Rencana Prabowo

3 menit membaca View : 20
Avatar photo
Andi Fendy
Nasional - 02 Mei 2026

Mediaraya.id – Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Presiden Prabowo Subianto langsung menyoroti satu persoalan yang paling dekat dengan kehidupan buruh: mahalnya biaya tempat tinggal.

Menurut Prabowo, sebagian besar penghasilan pekerja habis hanya untuk membayar kontrakan atau sewa tempat tinggal setiap bulan.

Kondisi itu dinilai membuat buruh sulit memiliki rumah sendiri dan terus terjebak dalam beban pengeluaran rutin tanpa aset jangka panjang.

Karena itu, pemerintah menyiapkan skema baru pembiayaan perumahan dengan tenor panjang hingga 40 tahun, agar buruh bisa mengalihkan biaya sewa menjadi cicilan rumah pribadi.

“Jadi yang tadi 30% untuk kontrak, kita kurangi, itu adalah untuk kau cicil rumahmu sendiri. Cicilnya kalau bisa 20 tahun, kalau nggak bisa 20 tahun, 25 tahun. Kalau belum lunas 25 tahun, 30 tahun. Kalau tidak bisa 35 tahun, 40 tahun, karena buruh tidak mungkin lari ke mana-mana,” kata Prabowo dalam pidatonya saat Hari Buruh di Monas, Jumat (1/5/2026).

Beban Kontrakan Jadi Sorotan Utama

Di hadapan ribuan buruh yang memadati Monas, Prabowo menegaskan bahwa persoalan hunian bukan sekadar urusan properti, melainkan menyangkut kesejahteraan hidup pekerja.

Ia menggambarkan bagaimana pekerja dengan penghasilan terbatas sering kali harus mengalokasikan sekitar 30 persen pendapatan hanya untuk membayar sewa rumah.

Dalam jangka panjang, pengeluaran itu tidak memberi kepastian kepemilikan.

Pemerintah, kata dia, ingin mengubah pola tersebut dari “bayar kontrak” menjadi “mencicil rumah sendiri”.

Pendekatan ini dinilai lebih manusiawi karena memberi peluang bagi buruh untuk memiliki tempat tinggal tetap, sekaligus memperkuat rasa aman bagi keluarga mereka.

Kredit Rumah Bunga Rendah Maksimal 5 Persen

Selain tenor panjang, pemerintah juga menargetkan bunga kredit yang jauh lebih ringan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Prabowo mengungkapkan, selama ini masyarakat kecil justru kerap menghadapi bunga pinjaman yang sangat tinggi, bahkan mencapai puluhan persen per tahun.

“Orang kecil pinjam uang, bunganya bisa 70% setahun. Saya sudah perintahkan bank-bank milik Republik Indonesia, sebentar lagi kita akan kucurkan kredit untuk rakyat maksimal (bunga) 5% satu tahun,” ujarnya.

Advertisement

Kebijakan ini disebut menjadi bagian penting agar program cicilan rumah buruh tidak justru berubah menjadi beban baru.

Dengan bunga rendah, tenor panjang, dan dukungan pembiayaan dari bank-bank milik negara, pemerintah berharap akses kepemilikan rumah menjadi lebih realistis bagi pekerja sektor informal maupun formal.

Kota Baru Dan Rumah Susun Untuk Buruh

Sebagai pendukung program tersebut, pemerintah juga menyiapkan pembangunan kota-kota baru dengan konsep hunian vertikal.

Setiap kota dirancang memiliki hingga 100 ribu unit rumah susun lengkap dengan fasilitas penunjang seperti sekolah, rumah sakit, tempat penitipan anak, hingga akses transportasi publik.

“Dan saya sudah rencanakan, kita akan bikin kota-kota baru. Kota-kota baru, tiap kota mungkin terdiri dari 100 ribu rumah, rumah susun 100 ribu,” ujar Prabowo, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Gagasan ini bukan hanya soal membangun rumah, tetapi juga membentuk ekosistem kehidupan yang layak bagi keluarga pekerja.

Hunian yang dekat dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan transportasi dinilai dapat memangkas biaya hidup sekaligus meningkatkan kualitas hidup buruh di perkotaan.

Harapan Baru Kepemilikan Rumah

Kebijakan cicilan rumah hingga 40 tahun menjadi salah satu poin paling menonjol dalam pidato Hari Buruh tahun ini karena langsung menyentuh kebutuhan dasar pekerja.

Bagi banyak buruh, memiliki rumah sendiri bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga simbol kepastian masa depan.

Rumah adalah perlindungan, rasa aman, dan warisan untuk keluarga.

Jika skema ini benar-benar berjalan dengan bunga rendah dan akses yang mudah, maka peluang buruh memiliki hunian sendiri akan semakin terbuka.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan implementasi di lapangan berjalan adil, tepat sasaran, dan tidak berhenti sebagai janji panggung semata.

Sebab bagi pekerja, rumah bukan sekadar bangunan melainkan harapan yang selama ini terus mereka perjuangkan.***

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *